Hypnotraphy

Bab I. Pendahuluan

Latar Belakang

Hipnosis seringkali dipandang sebagai hal yang negatif. Pada dasarnya hipnosis adalah metode dan teknik untuk menggali serta memanfaatkan potensi bawah sadar manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku kita didorong oleh aspek bawah sadar manusia. Masalahnya, tidak apa-apa jika bawah sadar kita berisi hal-hal yang baik dan positif, bagaimana jika ternyata lebih banyak berisi sampah dan ide negatif? (Lampung Post, Sabtu, 10 Maret 2007)
Hipnosis merupakan pembelajaran tentang cara kita memprogram bawah sadar. Sebaliknya juga, dengan cara mempelajari teknik hipnosis, hal tersebut juga bisa kita lakukan terhadap orang lain untuk membantu mereka. Dengan memahami hipnosis, seseorang belajar untuk mengelola bawah sadarnya agar menunjang harapan dan tujuan hidupnya. Termasuk pula menghilangkan kebiasaan serta sikap negatif yang sulit ia kendalikan dalam keadaan sadar.
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagai makhluk sosial, kita selalu berhubungan dengan orang lain. Dalam setiap berhubungan dengan orang lain, tidak bisa tidak, faktor komunikasi sangatlah berperan. Suatu cara berkomunikasi (verbal dan non verbal) dapat menentukan tingkat kenyamanan orang yang diajak bicara.
Kenyamanan orang yang diajak bicara dapat menentukan kualitas hubungan kita dengan orang tersebut, sehingga secara tidak langsung juga menentukan seperti apa hubungan kita dengan dia. Dengan suatu cara/ metoda berkomunikasi yang persuasif dan sugestif (disebut sebagai therapeutic communication, dapat membuat orang yang diajak berbicara merasa dekat dengan kita).
Cara komunikasi persuasif saat ini banyak diminati oleh mereka yang sadar bahwa komunikasi adalah faktor penting dalam kehidupan sosial mereka. Interaksi sosial membutuhkan komunikasi yang efektif. Salah satu ciri komunikasi efektif adalah bahwa pesan dapat diterima secara utuh oleh komunikan.
Lazimnya, pengiriman dan penerimaan pesan terjadi pada individu yang sadar akan terjadinya komunikasi itu. Tetapi, bagaimana dengan proses pengiriman dan penerimaan pesan dalam praktek hipnotrapi – yang penerimanya adalah tidak sadar – yang diberikan melalui rangsang sugesti.
Rangsang sugesti kemudian berlanjut pada pemberian pesan melalui jalur alam bawah sadar individu penerima pesan. Sebenarnya hampir setiap hari kita mengalami kondisi yang menganut konsep dasar hipnosis, yaitu kita bekerja dengan pikiran bawah sadar bukan dengan pikiran sadar. Namun kondisi tersebut tidak banyak bermanfaat bagi kita karena kurangnya pengetahuan kita akan keadaan tersebut.
Kita pasti pernah nonton film, bukan? Saat adegan film sedang seru-serunya kita pasti merasa tubuh kita menjadi tegang, napas berubah, dan jantung kita berdebar lebih kencang. Mengapa? Bukankah kita tahu bahwa apa yang sedang kita tonton bukanlah suatu kejadian nyata? Pikiran sadar kita tahu bahwa film itu bukan sesuatu yang nyata, namun pikiran bawah sadar kita menerima apa yang kita lihat dan alami sebagai sesuatu yang nyata.
Saat menonton film, perhatian kita sangat terpusat pada apa yang sedang berlangsung di layar sehingga kita memblok suara-suara lain, misalnya suara batuk penonton lainnya, atau suara handphone yang berbunyi. Pada saat itu, kita sangat sadar dengan keberadaan diri kita yang sedang menonton film. Semua sensasi atau perasaan yang kita rasakan saat menonton film, misalnya perasaan sedih, gembira, kecewa, marah, jengkel, atau bahagia merupakan hasil kerja pikiran bawah sadar kita. Saat itu kita Sebenarnya berada dalam kondisi hipnosis.
Lalu, apakah kita dikendalikan oleh film yang kita tonton? Tentu tidak! Film itu tidak mengendalikan diri kita tetapi mengarahkan pikiran kita dengan alur ceritanya. Inilah yang sebenarnya dimaksud dengan keadaan hipnosis atau trance.

Contoh lain kondisi hipnosis dalam keseharian adalah ketika kita mengemudi motor/mobil ke luar kota melalui jalan yang sepi. Ketika suasana hening karena tidak ada yang diajak berbincang, sering sekali terjadi kita tidak sadar (tidak ingat) telah melewati puluhan kilo meter, dan tahu-tahu kita sudah sampai di kota yang kita tuju. Biasanya kejadian itu disertai dengan tidak direkamnya kejadian-kejadian oleh pikiran sadar yang menyebabkan orang merasa perjalanan keluar kota itu sangat cepat.
Secara teoritis hal ini dapat dijelaskan melalui model respon kognitif (Greenwald, 1968). Menurut teori ini perubahan sikap dimediasikan oleh pemikiran-pemikiran yang terjadi dibenak penerima pesan. Greenwald mengatakan bahwa dalam persuasi tertentu penerima pesan mempertimbangkannya, menghubungkannya dengan sikap-sikap, pengetahuan, dan perasaan yang ada. Dalam melakukan hal itu, penerima pesan mengulang-ulang materi kognitif yang telah tersimpan.
Seorang yang dihipnosis (bukan hipnotis) akan tersugesti dengan pesan yang diberikan melalui alam bawah sadarnya. Respon kognitif terhadap pesan persuasif itu kemudian menggantikan pesan-pesan yang telah direkam sebelumnya dan menjadi sebuah pesan baru. Oleh karenanya, orang yang dihipnosis akan tampak sebagai orang yang baru dan berbeda dari sebelumnya.
Kondisi hipnosis atau trance berbeda dengan tidur biasa. Orang dalam hipnosis tidak mengalami mimpi, bisa mendengar perintah yang dikatakan oleh hipnotist dan menindak-lanjuti perintah itu, sedangkan orang tidur tidak bisa mendengar apapun dan bermimpi.
Cara atau teknik komunikasi yang digunakan untuk membawa subjek masuk ke dalam kondisi hipnosis disebut induksi. Dengan induksi, pikiran sadar subjek dibuat menjadi sibuk, bosan, dan akhirnya membuka pintu gerbang bawah sadar. Dengan demikian, juru hipnosis dapat langsung berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subjek (sugesti berkomunikasi dengan Sub-Councious mind)
Secara teknik kita juga dapat melakukan hipnosis terhadap diri kita sendiri. Perilaku dan tindakan saat ini adalah pengaruh dari suatu akumulasi pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami secara sadar atau tidak. Pengalaman ini telah menjadi program-program bawah sadar yang mendasari tindakan dan perilaku tersebut. Seperti sebuah program, kita dapat juga memprogram bawah sadar kita sesuai dengan nilai-nilai yang pernah kita miliki.
Pemakaian hipnosis secara tertulis dan menjadi l kitasan perkembangan hipnosis saat ini adalah sejak zaman Franz A. Mesmer pada abad ke-18 yang mempergunakan hipnosis untuk proses pengobatan. Mesmer menganggap dirinya mempunyai kekuatan dan kesaktian untuk mengobati pasien .
Kemampuan Mesmer disidangkan dalam Akademi Kedokteran Perancis yang dipimpin oleh Benjamin Franklin, atas permintaan raja Louis XVI, untuk meneliti apa saja yang telah dilakukan oleh Mesmer . Dan dari persidangan ini disimpulkan bahwa apa yang dilakukan Mesmer hanya suatu sugesti sedemikian rupa sehingga pasien melakukan proses penyembuhan sendiri. Aliran Mesmer ini (Mesmerisme) sudah terlanjur berkembang dan banyak sekali pengikutnya. Bayangkan, aliran ini sudah ada sejak 2 abad silam.
Aliran inilah yang berkembang di Indonesia sampai saat ini, dimana hanya orang yang memiliki “kesaktian” saja yang bisa melakukan hipnosis dan untuk memperoleh kemampuan ini dikaitkan dengan hal-hal mistik seperti berpuasa dulu, melakukan latihan fisik, dll. Dan, bila orang tersebut tidak kuat secara jiwa dan raga tetapi bisa melakukan hipnosis maka akan dicurigai bahwa orang tersebut menggunakan kekuatan sihir dengan bantuan kuasa gelap atau jin.
Padahal pada dasarnya hipnosis adalah metode dan teknik untuk menggali serta memanfaatkan potensi bawah sadar manusia. Kenyataan menunjukkan bahwa sebagian besar perilaku kita didorong oleh aspek bawah sadar manusia. Masalahnya, tidak apa-apa jika bawah sadar kita berisi hal-hal yang baik dan positif, bagaimana jika ternyata lebih banyak berisi sampah dan ide negatif?
Hipnosis merupakan pembelajaran tentang cara kita memprogram bawah sadar. Sebaliknya juga, dengan cara mempelajari teknik hipnosis, hal tersebut juga bisa kita lakukan terhadap orang lain untuk membantu mereka. Dengan memahami hipnosis, seseorang belajar untuk mengelola bawah sadarnya agar menunjang harapan dan tujuan hidupnya. Termasuk pula menghilangkan kebiasaan serta sikap negatif yang sulit ia kendalikan dalam keadaan sadar.

Tahapan-tahapan dalam pemberian sugesti terhadap seseorang dalam hipnosis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang disebut McGuire (1968) sebagai teori pemrosesan informasi. McGuire menyebutkan bahwa perubahan sikap terdiri dari enam tahap, yang masing-masing tahap merupakan kejadian penting yang menjadi patokan untuk tahap selanjutnya.
Pertama, pesan persuasif harus dikomunikasikan. Kedua, penerima akan memperhatikan pesan. Ketiga, penerima akan memperhatikan pesan. Keempat, penerima akan terpengaruh dan yakin dengan argument-argumen yang disajikan. Kelima, tercapai posisi adopsi baru. Keenam, terjadi perilaku (sikap) yang diinginkan. Meskipun, lanjut McGuire berbagai variable independen dalam situasi komunikasi dapat memiliki efek pada salah satu atau lebih dari seluruhnya.
Jadi untuk melakukan hipnosis ada sebuah proses komunikasi awal. “Harus ada obrolan terlebih dahulu. Ketika dia sudah merasa nyaman, bisa dilakukan penghipnosisan. Ada se kitar tiga tahapan hipnotis di antaranya trance dan deep trance.” Proses trance bisa dikatakan sebagai fase di mana sudah mulai masuk atau alfa dan beta atau sadar dan tidak sadar. “Jadi fase ini berada di tengah-tengah, sehingga dia bisa benar-benar sadar atau tidak. Sedangkan masa deep trance sudah fokus dan sangat memengaruhinya.” (Lampung Post, Minggu, 18 November 2007)

Bab II. Permasalahan

Proses komunikasi lazimnya terjadi antar individu yang sadar akan berlangsungnya pertukaran informasi diantara mereka. Tetapi akhir-akhir ini pertukaran informasi itu dapat dilakukan melalui alam bawah seseorang. Pananaman informasi itu dilakukan melalui seni komunikasi sugesti yang lebih dikenal dengan hipnosis.
Kemampuan komunikasi persuasif seorang hipnoterapis menjadi bekal yang penting dalam berlangsungnya komunikasi melalui alam bawah sadar seseorang. Hipnosis dilakukan untuk mengembangkan kemampuan memprogram alam bawah sadar seseorang agar dapat menunjang harapan dan tujuan hidupnya (Lampung Post, Minggu, 18 November 2007).

Makalah ini mencoba menguraikan bagaimana proses yang dilakukan oleh seorang hipnotrapis dalam memberikan sugesti (komunikasi – pengiriman pesan) terhadap orang yang tidak sadar (dibawah alam sadar) mereka, sehingga orang yang sudah dihipnosis menjadi seseorang yang berbeda (baru) dalam sikap dan perilaku kehidupan sosialnya.
Selain itu, makalah ini juga mencoba membuktikan bahwa sebenarnya hipnosis dapat dijelaskan dengan teori-teori persuasi komunikasi, psikologi, dan sosial. Beberapa penelitian Greenwald menunjukkan bahwa perubahan sikap seseorang bukanlah semat-mata dari hasil belajar yang dijelaskan dalam teori pembelajaran Hovland. Tetapi menurut Greenwald perubahan sikap itu dimediasikan oleh pemikiran-pemikiran yang terjadi dibenak penerima pesan.
Demikian halnya dengan hipnosis. Penanaman sugesti dalam diri seseorang dapat dijelaskan dengan beberapa pendekatan terutama psikologis. Sikap seseorang dapat berbeda setelah dihipnosis daripada sebelum dihipnosis. Misalnya seseorang yang tadinya sebagai perokok berat (tidak bisa meninggalkan kebiasaan itu) akan berubah menjadi seseorang yang tidak menyukai rokok. Tetapi hal itu juga tergantung dari faktor eksternal yang mempengaruhi individu tersebut.
Dengan demikian dapat dirumuskan beberapa pertanyaan untuk membuktikan bahwa hipnosis merupakan ilmu murni yang melibatkan kemampuan komunikasi dan psikologi sosial seseorang. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:
1. Melihat dan mempertanyakan bagaimana proses yang dilakukan oleh para pakar hipnotrapi dalam memberikan sugesti (komunikasi – pengiriman pesan) terhadap orang yang tidak sadar (dibawah alam sadar) mereka?
2. Bagaimana hasil yang diperoleh oleh individu yang sudah diterapi dalam menjalankan kehidupan sosialnya?
3. Apakah ada perbedaan antara pra terapi dan pasca terapi?

Bab III. Pembahasan

Akhir-akhir ini hipnosis menjadi populer di Indonesia dengan adanya tayangan di televisi mengenai hipnosis, meskipun banyak menimbulkan pro dan kontra mengenai hipnosis itu sendiri. Ada yang berpendapat diantaranya bahwa hipnosis adalah suatu proses mempengaruhi orang dengan kesaktian seorang penghipnosis.
Di Indonesia, khususnya, hipnosis sering dikaitkan dengan hal yang berbau mistik karena banyaknya kriminalitas yang katanya disebabkan karena hipnosis, maka banyak sekali masyarakat awam yang menganggap bahwa hipnosis ini dikaitkan dengan bantuan kekuatan gaib. Oleh karena itu banyak pula yang mengatakan untuk berhati-hati dengan hipnosis, kalau tidak ‘kuat’ jangan mempelajarinya.
Sebenarnya telah jauh-jauh hari para pakar komunikasi, psikologi sosial telah mengadakan penelitian mengenai hal ini. Ilmu hipnosis merupakan pengembangan kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dan memahami psikologi orang lain. Syarat utama inilah yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan komunikasi persuasif terhadap orang lain.
Proses penanaman pemikiran-pemikiran (sugesti) itu yang disebut oleh Greenwald (1968) sebagai respon kognitif. Kaitannya adalah dengan tujuan hipnosis, yaitu menghilangkan sikap-sikap negatif seseorang dengan cara menanamkan sugesti positif melalui alam bawah sadar mereka.
Proses selanjutnya adalah bagaimana sugesti itu dimaknai oleh penerima pesan. McGuire (1968) dalam teori pemrosesan informasi menyebutkan bahwa ada berbagai variable independen yang dapat mempengaruhi pemaknaan terhadap sugesti. Kecerdasan, misalnya, mungkin mengakibatkan kecilnya pengaruh sugesti, karena semakin cerdas seseorang akan semakin mampu menyaring pemikiran-pemikiran yang diberikan. McGuire juga menyebutkan bahwa cirri khasnya variable-variabel independent akan mempengaruhi satu tahap dengan cara positif dan tahap lain dengan cara negatif.
Banyak ilmuwan-ilmuwan yang meneliti fenomena hipnosis ini mulai dari Dr. James Braid, Freud, Jung, sampai dengan Dr. Milton H. Erickson dan seterusnya seperti Dr. Dave Elman dan sebagainya. Dari hasil penelitian mereka disimpulkan bahwa keadaan hipnosis, atau kadang-kadang disebut sebagai trans, adalah suatu keadaan di mana manusia sangat fokus pada suatu tindakan atau aktivitas yang sedang dilakukan dengan mengabaikan hal-hal lain yang bukan prioritasnya. Sehingga, apabila ada suatu masalah, dapat dengan mudah kita menyelesaikannya (Stephanus P. Nurdin, Hipnotherapist, Mei 2007).
Dalam proses hipnosis oleh seorang hipnotist yang terjadi adalah hipnotist memandu seorang subyek (orang yang dihipnosis) agar dapat dengan mudah masuk ke dalam keadaan hipnosis. Sedangkan tindakan atau perilaku yang terjadi karena proses hipnosis oleh seorang hipnotist adalah hasil sugesti yang sangat persuasif si penghipnosis kepada subyek sedemikian rupa sehingga subyek terpengaruh oleh sugesti tersebut. Tindakan ini tidak akan selalu berhasil bila sugestinya bertentangan dengan nilai dasar dan keinginan subyek.
Masalah perilaku manusia umumnya terjadi karena adanya perbedaan antara bawah sadarnya (subconscious) dan kesadarannya (conscious), atau mungkin lebih populer dengan mengatakan antara pikiran dan hatinya. Hipnoterapi berfungsi untuk menselaraskan antara subconscious dan consciousnya agar sejalan.
Havens dan Walter, dalam bukunya Hipnoterapi Scripts: A Neo-Ericksonian Approach, menyebutkan bahwa antara subconscious dan conscious dapat diibaratkan seorang nakhoda dengan anak buah kapal. Nakhoda sebagai conscious menentukan arah dan tujuan kapal, sedangkan anak buah kapal sebagai subconscious menjalankan kapal.
Anak buah kapal yang mengetahui apa yang terjadi selama perjalanan di laut, ada batu karang atau ada ombak besar, merekalah yang menyelesaikannya. Kapal akan selamat sampai tujuan jika ada kerjasama yang baik antara nakhoda dengan anak buah kiapalnya. Masalah akan timbul bila terjadi perbedaan tujuan atau pendapat antara nakhoda dengan anak buah kapal.

Hipnoterapi sangat bermanfaat dalam membantu proses penyembuhan. Klien dibuat menjadi tenang dan fokus dalam menyelesaikan masalahnya, apapun bentuknya mulai dari masalah medis sampai dengan masalah perilaku ataupun masalah psikis. Seperti halnya seorang pemakai narkoba.
Pemakaian narkoba dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, seperti karena rasa tidak percaya diri, pelarian dari suatu masalah yang tidak dapat diatasi, rasa stress yang tinggi, dan sebagainya. Apabila sumber masalah tidak diketahui atau tidak disadari oleh klien, maka proses penyembuhan tidak akan efektif sehingga penderita akan kembali kepada masalah yang dihadapinya.
Gejala ini pernah dijelaskan oleh Petty dan Cacioppo (1968) sebagai model kemungkinan elaborasi. Model ini menjelaskan bahwa terdapat dua rute menuju perubahan sikap, rute sentral dan rute ekstenal. Rute sentral dipakai ketika penerima secara aktif memproses informasi dan terbujuk oleh rasionalitas argumen. Sedangkan rute eksternal dipakai ketika penerima tidak mencurahkan energi kognitif untuk mengevaluasi argument dan memproses infromasi di dalam pesan dan lebih dibimbing oleh isyarat-isyarat eksternal, diantaranya kredibilitas sumber, gaya, dan format pesan, suasana hati penerima, dan sebagainya.
Sebagaimana berlaku pada semua manusia, terdapat dua sistem saraf, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf otonom. Sistem saraf pusat mengatur respons motorik hingga impresi sensori melalui otak dan saraf pada tulang belakang. Sistem saraf otonom mengatur sistem internal, yang biasanya merupakan gerak yang di luar kendali pikiran sadar. Yang termasuk dalam kendali sistem saraf otonom, antara lain adalah detak jantung, sistem pencernaan, dan aktivitas kelenjar.
Sistem saraf otonom terbagi menjadi dua bagian, yang cara kerjanya saling bertolak belakang. Sistem pertama adalah sistem saraf simpatik, yang bertanggung jawab terhadap mobilisasi energi tubuh untuk kebutuhan yang bersifat darurat. misalnya, jantung berdetak lebih cepat dan lebih kuat, tekanan darah meningkat, atau pernapasan menjadi lebih cepat. Sistem saraf simpatik melepas gula dari hati dan adrenalin dari kelenjar adrenal.

Sebagai contoh, pernahkah kita diminta berbicara di panggung atau dan kita mengalami demam panggung atau tegang? Yang kita alami saat itu adalah contoh dan kerja sistem saraf simpatik. Saat kita mengalami demam panggung, secara fisik yang terjadi adalah: lutut dan tangan kita gemetar, telapak tangan dan wajah kita berkeringat, jantung berdebar lebih kencang dan keras, tarikan napas lebih cepat, dan perut terasa tidak enak atau mungkin mual. Semua itu disebabkan karena sistem saraf simpatik sedang in-action sebagai respons dari perasaan takut dan tegang saat berbicara di depan umum.
Perasaan takut dan tegang diterjemahkan Sebagai suatu kondisi darurat dan tubuh kita, secara refleks, menyiapkan diri untuk memberikan respons lawan atau lari (fight or flight response). Sebaliknya, kerja sistem saraf parasimpatik mengakibatkan detak jantung melambat, tekanan darah turun, dan respons insting dari kondisi istirahat dan relaksasi. Respons parasimpatik mengakibatkan kita menjadi lebih tenang dan nyaman. Semua itu bertujuan untuk menghemat energi tubuh.
Kedua sistem saraf, simpatik dan parasimpatik, tidak bisa aktif bersamaan. Saat proses hipnosis yang terjadi adalah juru hipnosis mengaktifkan sistem saraf parasimpatik subjek sehingga subjek menjadi sangat rileks dan nyaman. Hal ini sangat bermanfaat dalam melakukan terapi karena subjek akan tetap rileks, meskipun fobia atau traumanya sedang ditangani.
Cara atau teknik komunikasi yang digunakan untuk membawa subjek masuk ke dalam kondisi hipnosis disebut induksi. Dengan induksi, pikiran sadar subjek dibuat menjadi sibuk, bosan, dan akhirnya membuka pintu gerbang bawah sadar. Dengan demikian, juru hipnosis dapat langsung berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subjek.
Teknik ini menurut Petty dan Cacioppo (1968) disebut juga sebagai elaborasi. Elaborasi merujuk pada keberadaan yang dipikirkan oleh seseorang secara cermat mengenai informasi yang relevan dengan masalah yang ada. Elaborasi juga meliputi perhatian secara hati-hati terhadap paparan, usaha untuk mengakses informasi yang relevan (dari memori atau sumber-sumber eksternal), pengamatan dan pengambilan keputusan tentang argument-argumen yang baik, dan pencapaian evaluasi menyeluruh terhadap posisi yang direkomendasikan.

Persuasi dalam hipnosis dapat terjadi dibawah elaborasi tinggi maupun elaborasi rendah, atau diantara keduanya. Ketika persuasi terjadi pada rute sentral biasanya argument-argumen berkualitas tinggi dipresentasikan secara kuat. dengan rute sentral, besar kemungkinan terjadi persuasi apabila penerima digiring memiliki pemikiran-pemikiran positif secara umum tentang psosisi yang dianjurkan. Dengan demikian, untuk mendapatkan hasil yang positif maka harus ada kesesuaian antara faktor-faktor pesan awal penerima dengan pesan yang dianjurkan tadi.
Karena faktor-faktor itulah, seorang hipnotis tidak dapat melakukan persuasi yang baik, jika seseorang yang dihipnosis tidak mengharapkan persuasi itu. Dengan kata lain, Peran juru hipnosis hanyalah menghantarkan subjek untuk masuk dalam kondisi trance dengan cara yang disebut induksi.
Dalam melakukan induksi, seorang hipnotist perlu dengan hati-hati memilih pendekatan untuk menyampaikan sugesti atau induksi. Pendekatan yang dipilih bergantung pada kepribadian subjek yang akan diinduksi. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu:
1. Authoritarian (Paternal). Pada pendekatan authoritarian, hipnotis secara langsung meminta atau memerintahkan subjek untuk menjalankan sugesti yang diberikan. Pendekatan ini sangat cocok untuk subjek yang patuh atau memiliki tingkat sugestibilitas tinggi. Pendekatan ini banyak digunakan pada stage hipnosis.
2. Perinissive (Maternal). Pendekatan permissive lebih bersifat ajakan dan disampaikan dengan lembut. Dalam hal ini, subjek diajak, didorong secara halus, dan diarahkan dengan lembut untuk mengikuti sugesti yang diberikan oleh hipnotist. Pendekatan permissive banyak digunakan dalam hipnoterapi.

Tetapi seperti sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa seorang hipnotist tidak akan bisa mempersuasi seseorang tanpa adanya persetujuan dari orang itu. Hal ini berkaitan dengan apa yang disebut oleh Djalaluddin Rachmat (2001) sebagai Nubuat yang Dipenuhi Sendiri. Menurutnya, konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena setiap orang sedapat mungkin bertingkah laku sesuai dengan kosep dirinya.
Dalam hipnosis, konsep diri erat kaitannya dengan penerimaan dan pengolahan pesan dalam alam bawah sadar seseorang. Menurut psikologi kognitif, pengalaman-pengalaman baru akan dimasukkan pada kategori tempat khusus dalam memori kita, berdasarkan kesamaannya dengan pengalaman masa lalu. Dan sifat yang ada pada kategori pengalaman itu dikenakan pada pengalaman yang baru tadi. Itulah yang disebut oleh Robert Rosenthal dan Leonore Jacobson (1968) sebagai stereotyping.
Dalam ilmu hipnosis, stereotyping digunakan sebagai jalan masuk menuju kondisi trance. Meskipun beberapa pakar hipnosis menggunakan kata “tidur” untuk membawa subjek ke kondisi hipnosis, tetapi sebetulnya trance atau kondisi hipnosis adalah berbeda dengan tidur. Ada lima karakteristik utama dalam kondisi hipnosis, yaitu:
1. Relaksasi fisik yang dalam
Induksi, cara yang digunakan untuk membawa subjek pindah dan pikiran sadar ke pikiran bawah sadar, melibatkan konsentrasi pada relaksasi fisik. Saat tubuh rileks, pikiran juga menjadi rileks. Saat kita rileks, gelombang otak akan turun dari beta, alfa, theta, kemudian ke delta. Semakin turun gelombang otak, kita akan semakin rileks.
2. Perhatian yang sangat terpusat
Masuk ke kondisi hipnosis merupakan suatu proses, di mana secara perlahan tapi pasti, perhatian kita menjadi fokus hingga mencapai konsentrasi yang sangat tinggi. Dalam kondisi normal, pikiran sadar kita dibanjiri oleh berbagai stimulus yang masuk melalui lima indra. Saat berada dalam kondisi hipnosis, perhatian menjadi lebih sempit dan lebih fokus sehingga hanya tertuju pada satu stimulus tertentu.
3. Peningkatan kemampuan indra
Eksperimen dengan menggunakan hipnosis menunjukkan bahwa kemampuan indra dapat ditingkatkan. Indra dapat beroperasi dengan lebih akurat bila fungsinya diarahkan dengan menggunakan sugesti. Kemampuan berpikir logis meningkat tajam dan akurasi dalam berpikir deduksi juga meningkat.
4. Pengendalian refleks dan aktivitas fisik
Saat seseorang di- hipnosis, detak jantung dapat dikendalikan, bagian tubuh dapat dibuat mati rasa, periode menstruasi dapat diatur, sirkulasi darah dapat ditingkatkan atau dikurangi, tarikan napas dan masukan oksigen menurun, temperatur tubuh berubah, dan masih banyak bagi aktivitas fisik lain yang seharusnya berjalan otomotis dapat dipengaruhi atau dikendalikan.
5. Respons terhadap pengaruh pasca- hipnosis
Sugesti yang diberikan saat dalam hipnosis, dengan catatan kondisi sugesti ini tidak bertentangan dengan nilai dasar yang dipegang oleh subjek, akan dijalankan oleh subjek setelah ia tersadar atau bangun dan trance. Saat sugesti diberikan, subjek dapat menerima atau menolak atau dapat langsung bangun secara spontan dan relaksasi hipnosis. Sugesti yang bensifat positif, baik, dan menguntungkan subjek akan lebih mudah diterima daripada sugesti negatif.

Bab IV. Kesimpulan dan Saran

Pada dasarnya komunikasi dapat terjadi dalam keadaan apapun. Seperti halnya hipnosis – komunikasi – dengan alam bawah sadar manusia. Teknik hipnosis ternyata menerapkan kemampuan komunikasi dan pengetahuan psikologi yang baik, untuk memberikan sugesti dan persuasi terhadap seseorang.
Seorang hipnotis hanya cukup membawa pikiran sadar subjek dibuat menjadi sibuk, bosan, dan akhirnya membuka pintu gerbang bawah sadar. Dengan demikian, juru hipnosis dapat langsung berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar subjek.
Dr. Joseph Murphy, Ph.D., penulis buku Daya Batin Bawah Sadar menyatakan, kekuatan bawah sadar itu besar sekali. Batin bawah sadar memberi inspirasi, menuntun, serta memperlihatkan nama, fakta, dan pem kitangan dari gudang ingatan. Bawah sadar menjalankan denyut jantung, mengatur sirkulasi darah, pencernaan, asimilasi, dan pengeluaran kotoran tubuh.
Bila kita makan sepotong roti, batin bawah sadar akan mengubahnya menjadi kulit, otot, tulang, dan darah. Proses ini ada di luar pengetahuan orang terpintar sekalipun. Batin bawah sadar mengontrol semua proses vital dan fungsi tubuh serta mengetahui jawaban semua masalah.
Secara teoritis hipnosis dapat dijelaskan sebagai proses komunikasi melalui alam bawah sadar manusia, dengan memasukkan sugesti ke dalamnya, dengan harapan setelah diberikan sugesti, konsep dirinya dapat menjadi lebih positif. Konsep diri merupakan faktor terpenting proses berlangsungnya penanaman sugesti (induksi) hipnosis.
Mengapa?, karena Perilaku dan tindakan saat ini adalah pengaruh dari suatu akumulasi pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami secara sadar atau tidak. Pengalaman ini telah menjadi program-program bawah sadar yang mendasari tindakan dan perilaku tersebut. Seperti sebuah program, kita dapat juga memprogram bawah sadar kita sesuai dengan nilai-nilai yang pernah kita miliki.
hipnosis bercirikan keadaan yang single focus, orang lebih peka terhadap proses dalam tubuhnya termasuk proses pengindraannya . Karena fokusnya ke satu hal maka pembelajaran lebih mudah terjadi jika dibandingkan dengan pembelajaran saat kita fokus ke beberapa hal.
Untuk sampai ke keadaan single focus ini beragam metoda dapat dilakukan. kita bisa duduk di kursi dengan mata terpejam sambil menyadari masuk dan keluarnya nafas. kita bisa fokuskan perhatian kepada suatu titik, gambar, gerakan benda. kita bisa juga mengingat keadaan yang menyenangkan dan merasakannya kembali. kita bisa mengingat kembali pengalaman saat sedang menonton acara yang membuat kita nyaman. kita bisa pula menghitung mundur dari 100 hingga 1 dan menyadari semakin mundur semakin relaks. Cara-cara untuk masuk ke dalam keadaan fokus ini dinamakan Induksi.
Tujuan dari induksi ini adalah agar kita lebih relaks, sehingga kita lebih focus dan bank ingatan kita terbuka. Bank ingatan ini adalah tempat semua program-program hidup kita selama ini . Membuka bank ingatan ini dalam keadaan banyak fokus tidak mudah. Hanya dalam keadaan single focus sajalah, bank ingatan ini mudah terbuka dan mudah pula untuk menerima program-program pembelajaran baru.
Bank ingatan ini dikenal dengan nama Long Term Memory, Subconscious ataupun Unconscious. Manusia dalam hidupnya menerima program dari lingkungannya , terawal dari pengasuhnya melalui kata atau kalimat yang perlahan-lahan dimasukkan ke dalam bank ingatannya. Kata atau kalimat apapun yang masuk ke bank ingatan akan diolah langsung persis apa adanya. Bila kata ”Saya Lemas” yang masuk ke Bank ingatan, maka bank ingatan menerima perintah Program “Saya Lemaslah” yang harus dijalankan oleh tubuh, maka tubuh hanya memberikan respon-respon yang melahirkan ”Saya Lemas”.
Penggunaan kata dan kalimat seperti ini disebut dengan Sugesti atau Script atau Change atau Learning. Semakin Sugesti ini sering dimasukkan ke dalam Bank ingatan, maka semakin intenslah program itu, dan semakin kuat pula untuk mengubah orang tersebut ke arah program yang dimasukkan.
hipnosis dalam fenomena sehari-hari berjalan melalui 2 proses kunci itu. Proses Induksi dan proses Sugesti.
hipnotis dalam kehidupan kita adalah diri kita sendiri, pengasuh, orangtua, keluarga, guru, masyarakat dan budaya. kita bisa saja bebas dari pengaruh Clinical hipnosys, namun kita hingga saat ini bisa jadi terbelenggu dalam pengaruh Cultural hipnosys. Apa yang kita makan, apa yang kita pakai, apa yang kita persepsikan baik dan buruk, bernilai tak bernilai, bisa jadi bukan atas pilihan kita sendiri.

Daftar Pustaka

– Severin, Werner J dan James W Tankard, Jr. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, dan Terapan di Dalam Media Massa, Edisi Kelima (terjemahan). Jakarta: Kencana, 2005
– Stephanus P. Nurdin, Hipnotherapist. hipnotherapy Internet Last Update 21 Mei 2007
– Racmat, Drs. Djalaluddin, M.Sc. Psikologi Komunikasi. Bandung: Rosda Karya, 2001
– (Lampung Post, Minggu, 18 November 2007).
– Haerul Gani, Asep. Mengenal Fenomena hipnosis dan Pemanfaatannya. 19 April 2007 (Internet)
http://nizmaanakku.blogspot.com/2007/09/ hipnosis-dan-hipnotis.html
http://users.newblog.com/Henrikus/?post_id=10422
http://www.geocities.com/waskita_99/formmail.html
http://ronnyfr.com/?p=22 (February 16, 2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s